Minggu, 05 Januari 2014

contoh PKM peternakan



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah. Didukung letak geografi, ekologi, dan kesuburan lahan, Indonesia cocok dijadikan sektor pertanian yang berperan dalam aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Salah satu subsektor pertanian protein hewani dengan kata lain, protein tersebut dapat kita peroleh dari peternakan. Subsektor ini menghasilkan berbagai macam komoditas yang berasal dari berbagai hewan ternak, diantaranya yaitu susu sapi yang merupakan komoditas potensial dari sapi perah. Komoditas ini dinilai memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia karena menyangkut nilai gizi.
Gizi untuk meningkatkan kesehatan manusia dapat diperoleh dari air susu hewan. Air susu  merupakan bahan makanan protein hewani dengan kandungan lemak, vitamin, mineral, laktosa serta enzim-enzim dan beberapa jenis mikroba yang bermanfaat bagi kesehatan sebagai probiotik (Usmiati, Sri dkk. 2009). Air susu terbanyak diproduksi oleh Sapi FH, hal ini disebabkan karena Sapi FH mampu beradaptasi dengan ber bagai iklim iklim mulai dari subtropis sampai tropis.
Tabel 1. Komposisi Nilai Gizi Susu Sapi per 100 Gram
No
Zat gizi
Nilai (per 100 gr) satuan
1
Kalori
61 Kkal
2
Protein
3,20 g
3
Lemak
3,50 g
4
Karbohidrat
4,30 g
5
Kalium
1.200 mg
6
Fosfor
694 mg
7
Besi
1,70 mg
8
Retinol
39 mcg
9
Vitamin B1
0,03 mg
10
Vitamin C
1 mg

Sumber: Daftar Komposisi Bahan Makanan (Persagi 2005)
.           Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, perbaikan ekonomi dan tingkat kesadaran kebutuhan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Pada tahun 2011 Konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai 16,4 kg atau 15,97 liter per kapita (Matondang, 2012). Sedangkan Industri Pengolahan Susu (IPS) memprediksi bahwa konsumsi susu masyarakat pada tahun 2020 adalah sebesar 6 milyar liter setara susu segar atau 16,5 juta liter per hari. Hal ini menunjukkan bahwa susu dibutuhkan minimal 1.325.000 ekor sapi laktasi (dengan rataan produksi 4.600 liter per laktasi) atau populasi sapi perah sebesar 2,6 juta ekor.
            Saat ini persebaran air susu masih sangat rendah, ini dilihat dari permintaan potensi susu oleh 250 juta penduduk namun baru mencapai 30 kebutuhan efektif (Yusdja, 2005). Produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 30% kebutuhan nasional dan sisanya diimpor sebanyak 132,874 ribu ton setara susu segar, dimana 80% diserap oleh IPS dan sisanya 20% diserap oleh industri susu non IPS, kebutuhan pedet dan konsumen langsung (Matondang dkk.2012).
            Di bidang peternakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
jumlah produksi susu, seperti lingkungan, kondisi fisiologis dari ternak, umur ternak, pemberian pakan, serta manajemen pemerahan.Manajemen pemerahan di sebuah peternakan dapat meliputi beberapa hal diantaranya waktu pemerahan, selang pemerahan, frekuensi pemerahan dan tatalaksanapemerahan. Secara umum, jadwal pemerahan di peternakan sapi perah di Indonesia adalah pagi hari dan sore hari.
Tata laksana pemerahan terdapat dua metode yaitu dengan menggunakan
mesin perah dan tenaga manusia. Pemerahan dengan mesin perah biasa digunakan di peternakan dengan skala produksi yang besar, sedangkan tenaga manusia atau
menggunakan tangan pada umumnya diterapkan pada skala peternakan rakyat.
Peternakan rakyat di Indonesia jumlahnya lebih banyak dibandingkan peternakan
skala industri. Kendala tersebut terjadi karena peternak belum mampu mengembangkan usahanya, karena rendahnya pendapatan. Pendapatan mereka hanya cukup dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga tidak mampu untuk mengembangkan usahanya. (Rusdiana, 2009). Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dalam tata laksana pemerahannya, agar dapat meningkatkan produktivitas susu.          
Dalam proses produksi susu banyaknya koperasi-koperasi pengumpul air susu yang menambahkan campuran air pada air susu. Pengumpul susu ini bertujuan agar produksi  susu lebih banyak dan membawa keuntungan yang besar. Kegiatan seperti itu menyebabkan kandungan penting pada susu menjadi berkurang. Tujuan masyarakat mengonsumsi susu adalah karena ingin memenuhi kebutuhan nutrisi. Ketika terjadi pencampuran air susu dengan air maka otomatis telah terjadi kecurangan pada pihak penjual yang dapat merugikan pembeli air susu. Pemberdayaan koperasi susu telah dicoba dalam menangani minimnya pasokan susu. Namun akibat penerapannnya belum optimal, akhirnya Indonesia masih terus impor susu dari negara lain.
 Selama ini telah dilakukan banyak usaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu di Indonesia seperti penyuluhan terhadap peternak sapi perah. Pemberian bekal kepada peternak mengenai cara pemerahan susu, pemberian perlakuan istimewa pada sapi sebelum pemerahan, pemberian pakan yang berkualitas dan pengaturan suhu serta kelembaban. Selain itu telah banyak diproduksi obat, hormon ataupun vitamin untuk merangsang air susu. Namun obat-obat tersebut masih memiliki beberapa kekurangan.
                        Untuk  meningkatkan produksi air susu ternak kami menawarkan produk berbentuk salep. Dengan tampilan yang praktis, dan bahan herbal alami. Selain merangsang jumlah air susu yang keluar, poduk ini berkhasit untuk meningkatkan kualitas gizi air susu.
Rumusan Masalah
a)      Bagaimana kondisi produksi susu di indonesia?
b)      Siapa pihak yang terlibat dalam produk salep PAS?
c)      Bagaimana pembuatan salep PAS sebagai perangsang susu?
d)     Bagaimana salep PAS meningkatkan produksi susu?
Tujuan
a)      Mengetahui kondisi produksi susu di indonesia?
b)      Mengetahui pihak yang terlibat dalam produk salep PAS?
c)      Mengetahui pembuatan salep pas sebagai perangsang susu?
d)     Mengetahui salep pas meningkatkan produksi susu?
Manfaat
a)      Manfaat untuk penulis
·         Mengetahui cara peningkatan air susu
·         Mengerti pembuatan salep perangsang air susu
b)      Manfaat untuk fakultas peternakan
·         Menciptakan inovasi baru pada perangsang air susu
·         Membuat produk inovasi baru yang mudah dikembangkan masyarakat
c)      Manfaat untuk peternak
·         Merangsang nafsu makan pada ternak
·         Mununjang  produksi air susu ternak
·         Meningkatkan kwalitas air susu yang dihasilkan

GAGASAN
Kondisi Kekinian Produksi Air Susu Sapi
Indonesia merupakan negara Asia Tenggara yang paling tinggi populasinya. Memiliki populasi sekitar 220 juta orang dan Populasi tumbuh sekitar 1,5% per tahun dan diperkirakan meningkat menjadi 240 juta pada tahun 2010. Indonesia memiliki jumlah penduduk berumur di bawah 19 tahun yang cukup besar (Matondang, 2012). Sedangkan pada tahun 2013 Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal mengungkapkan jumlah penduduk Indonesia akan diperkirakn bertambah menjadi 250 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun.
Saat ini konsumsi susu sapi dalam negeri mencapai sekitar 4 juta liter per hari namun kemampuan produksi hanya sekitar 1,25 juta liter per hari atau sekitar 30 persen dari kebutuhan susu nasional. Guna mengatasi permasalahan ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi susu, maka sekitar 70 persen dari total kebutuhan dipenuhi melalui impor susu. Peningkatan jumlah susu impor tersebut sebesar 18,8 persen per tahun yang berasal dari Selandia Baru, Australia, dan Philipina.
Menurut data Kementerian Perindustrian, total kebutuhan bahan baku susu tercatat 3,2 juta ton per tahun. Sedangkan pasokan dari peternak hanya 690.000 ton yang dihasilkan oleh sekitar 597.135 ekor sapi perah. Artinya, hanya 21% bahan baku industri susu olahan yang bisa dipenuhi oleh peternak, sedangkan 79% masih harus diimpor. “Kalau begini kondisinya, jelas kita akan semakin tergantung pada susu impor,” ujar Teguh.
Dengan jumlah perkembangan penduduk yang tinggi, Indonesia memiliki prospek pengembangan industri yang relative besar. Dilihat dari sisi produksi, Indonesia memiliki padang-padang penggembala dan produksi hijauan yang berlimpah dan sebagian besar tidak digunakan sepanjang tahun. Sedangkan dari sisi kemampuan financial, di indonesia hanya mampu menyediakan informasi yang relativ tinggi, untuk swasta maupun usaha rakyat tersedia. Salah satu kelemahan kita adalah belum menguasai kemampuan manajemen dan teknologi sapi perah (Matondang, 2012).
Selama ini di Indonesia yang telah diterapkan untuk meningkatkan produksi susu sapi perah adalah dengan peningkatan skala usaha, memberikan pakan yang cukup dan berkualitas, meningkatkan frekuensi pemberian pakan bernutrisi tinggi dan aspek tata laksana pemerahan yang efektif (Rusdiana, dkk, 2009). :
1.      Peningkatan skala usaha
Pada skala kecil usaha peternak sapi perah di Indonesia hanya memiliki 3-5 ekor sapi dengan hasil air susu di bawah 10 liter atau tepatnya hanya 9 liter/kapita/ tahun. Produksi  air susu ini kurang mengimbangi konstribusi masyarakat dalam upaya peningkatan produksi susu nasional. Belum lagi jika pada peternakan tersebut sedang dalam tidak memproduksi susu, Ini akan meningkatkan tingkat impor air susu sapi di indonesia.
  1. Memberikan pakan yang cukup dan berkualitas
Etgen et al., (1987) menyatakan bahwa rasio untuk hijauan dalam bahan kering ransum harus berkisar 40-70%, jika rasio hijauan kurang dari 40%, maka kadar lemak susu akan turun atau sebaliknya jika rasionya melebihi 70%, produksi susu yang tinggi akan tercapai. Siregar (1996) juga sependapat dengan pernyataan diatas, untuk mencapai produksi yang tinggi dengan tetap memperlakukan kadar lemak susu dalam batas-batas yang memenuhi persyaratan kualitas, rasio hijauan konsentrat adalah 60 : 40. Sapi perah yang sedang berproduksi dapat hanya diberikan hijauan, namun produksi susu akan sangat rendah, sehingga tidak akan ekonomis. Demikian pula halnya apabila yang diberikan seluruhnya adalah pakan konsentrat akan tercapai produksi susu yang maksimal, namun kualitas susu yang dihasilkan akan menurun, dan hal ini juga tidak akan ekonomis (Siregar, 2003).
Tabel 2. Kandungan BK, PK, dan TDN dalam Pakan Jenis Pakan
No
Komposisi
BK
PK
TDN
1
Rumput Lapang
24
4 8.2
56.2
2
Singkong
32.3
3.3
81.8
3
Kulit Kacang Kedele
91
12. 3
48
4
Ampas Tempe
20.5
13
-
5
Konsentrat
85.3
11
76

Sumber : Nur Hafizah Tristy, 2009

3.      Meningkatkan frekuensi pemberian pakan
Sapi perah induk membutuhkan asupan-asupan makanan dengan zat gizi yang kandungan protein kasar di atas 10 persen dari bahan kering, energi di atas 50 persen, kalsium di atas satu persen, dan kandungan vitamin A yang tinggi. Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya golongan kacang-kacangan atau legume (daun kacang tanah, lamtoro, kaliandra, alfalfa, gliricidae dan daun kacang-kacangan). Ketika kualitas pakan rendah maka jumlah pakan yang diberikan harus lebih banyak.
4.      Meningkatkan frekuensi pemerahan
Pada umumnya pemerahan dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun, jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari (Tristy, Nur Hafizah, 2009). Pemerahan dilakukan dengan memperhatikan keadaan ambing sapi. Setiap sapi perah memiliki ambing yang didalamnya terdapat alveoli-alveoli. Alveoli ini akan berfungsi maksimal ketika ambing dalam keadaan kosong karena diperah. Oleh karena itu, manajemen waktu pemerahan yang baik disini sangat dibutuhkan agar produksi susu sapi perah optimal.
5.      Pemberian hormon dan obat perangsang air susu
Hal ini sering dilakukan ketika kondisi geografis peternakan sedang dalam masa kekeringan sehingga sulit didapatkan bahan pakan atau mahalnya bahan pakan. Peternak memilih untuk menambahkan suplemen agar produksi susu meningkat atau tetap stabil.
Kondisi kehidupan yang semakin mengarah pada kepraktisan atau efisiensi kerja mendukung gagasan kami untuk menciptakan obat atau salep perangsang air susu sapi. Hal ini karena salep akan lebih mudah dan cepat dalam penggunaannya dibandingkan dengan obat lain. Obat-obat yang sebelumnya terdapat beberapa kekurangan seperti terbuangnya sisa-sisa pakan yang mengandung serbuk obat dan tidak efisiensinya penggunaan jarum suntik dapat diperbaiki oleh gagasan kami.
Selama ini telah banyak produsen-produsen yang memproduksi obat-obat perangsang air susu. Mulai dari bentuk cair yang disuntikkan ke ternak ataupun dalam bentuk serbuk yang diberikan pada pakan ternak . Ada juga dengan cara penambahan hormon perangsang yang biasa dipakai peternak. Namun obat-obat tersebut masih memiliki beberapa kekurangan, seperti jika pada obat suntikan subkutan akan menghabiskan alat suntik yang banyak sehingga bisa dikatakan tidak efisien. Sedangkan  pemberian obat serbuk akan tidak efektif karena serbuk-serbuk tidak seratus persen tercampur dengan pakan, ada yang tertinggal di wadah pakan. Belum lagi ketika ternak tidak memakan semua pakan yang diberikan.
 Pemberian hormon pada ternak menyebabkan adanya kecenderungan untuk menghasilkan residu dan residu ini yang dikhawatirkan berdampak pada kesehatan manusia karena pemberian hormon steroid bersifat karsinogenik dan efek pemberian hormon ini menimbulkan stress yang berkepanjangan sehingga sapi lebih mudah terkena penyakit dan umurnya juga lebih pendek.
Bahan pembuat salep terdiri dari bahan alami dan bahan kimia. Namun efek negatif zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat dinetralisir oleh bahan-bahan alami. Oleh karena itu tidak dikhawatirkan akan adanya zat-zat karsinogenik yang dapat membahayakan sapi perah maupun pengkonsumsi susu. Kekurangan-kekurangan diatas diharapkan dapat diperbaiki oleh gagasan kami.
            Dalam tahap pengimplementasian gagasan kami, kami mempertimbangkan pihak-pihak yang  dapat membantu berjalannya rencana, seperti :                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
1.      Pemerintah
wadah yang tepat untuk manangani hal ini. Dengan bantuan pemerintah dengan cara mensosialisasikan produk ini kepada peternak sapi perah.
2.      Peternak
Adanya produk ini diharapkan bisa membantu permasalahan yang dihadapi peternak selama ini. Tujuannya yaitu meningkatkan produksi susu.

            Peternak perlu menambahkan hormon perangsang air susu dengan metode pemberian yang berbeda. Mengenai solusi tersebut, kami menciptakan produk berupa salep untuk menghantarkan hormone-hormon perangsang air susu pada ternak. Produk kami ini berupa salep dengan bahan dasar dari tumbuhan. Selain meningkatkan hasil produksi air susu, selep ini memiliki peran penting dalam meningkatkan gizi protein herbal dari hasil air susu. Ditinjau dari sisi yang lain, salep produk kami ini juga  memiliki kemasan praktis, mudah dalam penggunaannya sehingga konsumen tidak perlu khawatir mengenai metode pemanfaatannya.
Gagasan Baru Dalam Merangsang Produksi Air Susu Sapi
               Dengan adanya kondisi yang menunjukkan belum maksimalnya produksi pada air susu sapi, maka diperlukan adanya solusi yang dapat menanggulangi masalah tersebut. Solusi yang kami dapatkan yaitu salep perangsang air susu sapi.
               Salep merupakan salah satu jenis sediaan semi solid atau setengah padat. yang menentukan dalam pembentukan salep yakni basisnya. basis salep merupakan suatu zat yang umumnya tidak mempunyai efek terapetik dan digunakan sebagai pelarut atau pembawa bahan aktif, namun basis salep ikut mengambil bagian yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan terapi salep. Bahkan seringkali basis memegang peranan yang paling dominan.
               Salep yang kami buat ini mengandung nutrisi perangsang air susu dengan cara meningkatkan kadar prolaktin. Kadar prolaktin ini terdapat pada kelenjar susu yang berfungsi Merangsang pembentukan dan pengeluaran hormon steroid air susu setelah melahirkan. Kadar prolakaktin terdapat pada setiap makanan yang mengandung protein. Di dalam protein terdapat asam amino tirosin dan triptofan, yang memiliki kemampuan memicu pengeluaran prolaktin. Selain pada makanan, minuman seperti bir juga dapat memicu pengeluaran prolaktin.
               Dalam peningkatan kandungan triptofan, makanan harus memiliki kandungan serotin yang tinggi. Adapun makan yang memiliki kandungan serotin yang tinggi dan kaya kandungan triptofan adalah susu, kedelai, sayuran dan hasil ternak unggas
Berikut ini adalah beberapa makanan yang mengandung kadar triptofan yang tinggi:
a)      Susu mempermudah untuk mendapatkan tidur nyenyak. Susu kedelai juda merupakan sumber triptofan yang cukup baik.
b)      Daging. Daging merah yang berlemak memeliki kandungan triptofan yang tinggi. Seperti: daging sapi, digang ayam dan daging kalkun.
c)      Keju. Keju dengan triptofan tinggi seperti: keju cottage, chadder
d)     Sayuran. Sayuran merupakan makanan murah dengan kandungan triptofan yang tinggi.
            Dalam penerapannya, salep ini di gunakan setelah selesai masa menyusui anak ternak. Sebelum pengolesan salep pada ambing ternak sapi, dilakukan tahap pencucian ambing sapi. Selain untuk membersihkan ambing sapi, tahapan pencucian ini befungsi untuk hormon oksitosin sebelum tahapan  pemerahan ternak sapi. Sentuhan pada puting akan memberikan impuls ke saraf yang diteruskan ke otak kemudian ke kelenjar pituitary posterior yang menyebabkan terjadinya sekresi oksitosin. Oksitosin yang terdapat di dalam darah meningkat
seiring dengan perangsangan pada ambing. Oksitosin menyebabkan serabut myoepithel yang merupakan reseptor yang menyelubungi alveoli berkontraksi dan menyampaikan pesan ke alveoli untuk mengeluarkan susu (Matondang, 2012).
            Tahapan pencucian, sebagai berikut:
1.      Membersihkan kandang dari segala kotoran
2.      Mencuci daerah lipatan paha sapi yang akan diperah
3.      Memberi konsentrat kepada sapi yang akan diperah
4.      Membersihkan alat-alat pemerahan susu (ember dan alat takar susu) dan cane Susu
  1. Membersihkan tangan pemerah
  2. Mencuci ambing dengan air bersih, kemudian melapnya dengan lap yang bersih.
  3.  Melakukan uji mastitis setiap sebelum dilakukan pemerahan.
(Tristy, Nur Hafizah, 2009).

            Setelah tahap pembersihan ambing susu selesai, salep dioleskan pada ternak diwaktu malam hari. salep ini akan meresap dan bekerja malam hari setelah tahap pengolesan. Pada keesokan harinya sebelum pemerasan air susu, ambing harus dibersihkan dengan cara pembersihan yang sama pada tahap awal. Kegiatan ini harus dilakukan secara berangsur-angsur. Mulai saat pemerasan minggu pertama, agar poduksi air susu meninggkat secara stabil..
 Tahapan pemerahan dengan cara manual atau dengan tangan adalah sebagai berikut:
1.      Membersihkan kandang dari segala kotoran.
2.      Mencuci daerah lipatan paha sapi yang akan diperah.
3.       Memberi konsentrat kepada sapi yang akan diperah, sehingga ketika dilakukan pemerahan, sapi sedang makan dalam keadaan tenang.
4.       Membersihkan alat-alat pemerahan susu (ember dan alat takar susu) dan cane susu.
5.      Membersihkan tangan pemerah
6.       Mencuci ambing dengan air bersih, kemudian melapnya dengan lap yang bersih.
7.      Melakukan uji mastitis setiap sebelum dilakukan pemerahan
(Tristy, Nur Hafizah, 2009).
Langkah Pembuatan Salep
  1. Alat
Alat-alat yang digunakan yaitu :
a)      seperangkat alat gelas
b)      rotary evaporator
c)      oven (Memmert)
d)     autoklav(Wiconsin co.LTD)
e)      Laminar Air Flow (1-800-44 FAAR Co)
f)        inkubator (Precision scientific)
g)      mort ir dan stamper
h)      penangas air
i)         stopwatc
j)         timbangan elektrik Ohaus Scout BJ5006310302 portable
k)       viskotester VT-04 Rion Co.LTD
l)        rangkaian alat uji daya sebar dan alat uji daya lekat.


  1. Bahan
a)    Daun kemangi. Bahan yang digunakan untuk formula salep adalah PEG 4000 dan PEG 400 dengan kualitas farmasetis
b)   Daun bayam
c)    kedelai
d)    Eter
e)    aqua destilata kualitas farmasi
f)     FeCl3
g)    Na sulfat anhidrat pro analisis
    Pada resep ini membuat sediaan yang berkhasiat sebagai krim. Krim adalah sediaan ½ padat berupa emulsi kental yang mengandung tidak kurang dari 60 % air.
Dalam pembuatan sediaan ini terdapat beberapa komposisi bahan, yaitu :
A.    Asam stearat
    Berfungsi sebagai zat tambahan yaitu sebagai emulgator
B.     Mineral oil
C.     Aqua destillata
    Berfungsi sebagai zat pembasah
D.    Rosae
    Berfungsi sebagai zat tambahan dan pengaroma
E.     Propil paraben
    Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
F.      Metil paraben
    Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
G.    Daun kemangi sebagai zat tambahan yang memiliki kandungan prolaktin perangsang air susu sapi
H.    Daun bayam sebagai zat tambahan yang memiliki kandungan prolaktin perangsang air susu sapi
I.       Kedelai sebagai zat tambahan yang memiliki kandungan prolaktin perangsang air susu sapi
   
                
Dalam pelaksanaan resep perangsang air susu sapi ini alat-alat yang diperlukan yaitu:
1.      Mortir
2.      Stemper
3.      Serbet  
4.      Sendok tanduk
5.      Sudip
6.      Kertas perkamen
7.      Timbangan beserta anak timbangan
8.      Kayu penjepit
9.      Pot plastik
10.  Cawan porselen
11.  Pipet tetes
12.  Biji gotri
13.  Etiket
   
Dalam pembuatan sediaan ini yang pertama dilakukan adalah
1.             Disiapka alat dan bahan
2.             Dilakukan penimbangan bahan
3.             Dipanaskan mortir dan stemper dengan air panas
4.             Dibuat fase minyak dengan meleburkan asam stearat, mineral oil, dan propil paraben di atas tangas air
5.             Dibuat fase air dengan melarutkan metil paraben
6.             Daun kemangi, daun bayam dan kedelai masukkan ke dalam air panas pada erlenmeyer.
7.             Kemudian dicampurkan hasil fase air dan fase minyak ke dalam mortir, digerus cepat hingga terbentuk cream.
8.             Setelah dingin diteteskan oleum rosae sebanyak 1 tetes, dan gerus hingga homogen.
9.             Oleum rosae dimasukkan terakhir agar tidak menguap jika digerus terlalu lama.
10.         Sediaan dimasukkan ke dalam pot plastic yang sebelumnya sudah ditimbang
11.         Setelah dimasukkan ke dalam pot ditimbang lagi untuk mengetahui netto sediaan
12.         Diberi etiket biru yang dimaksudkan untuk pemakaian luar.
13.         Simpanlah ditempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya matahari.

Kesimpulan
Produksi air susu sapi
                 Produksi air susu yang minim menjadikan kami membuat inofasi sebagai solusi untuk meningkatkan produksi air susu. Inofasi tersebut yaitu salep perangsang air susu. Salep ini terbuat dari bahan alami, yaitu kemangi, bayam, dan kedelai. Selain untuk meningkatkan produksi air susu, salep ini juga merangsang protein nabati dalam susu sapi. Jadi bagi konsumem susu tidak perlu kawatir, karena susu yang dihasilkan ini tidak banyak mengandung lemak.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar