PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia
merupakan negara agraris dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah.
Didukung letak geografi, ekologi, dan kesuburan lahan, Indonesia cocok
dijadikan sektor pertanian yang berperan dalam aktivitas sosial ekonomi masyarakat.
Salah satu subsektor pertanian protein hewani dengan kata lain, protein
tersebut dapat kita peroleh dari peternakan. Subsektor ini menghasilkan berbagai
macam komoditas yang berasal dari berbagai hewan ternak, diantaranya yaitu susu
sapi yang merupakan komoditas potensial dari sapi perah. Komoditas ini dinilai
memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia karena menyangkut nilai gizi.
Gizi untuk meningkatkan kesehatan manusia dapat
diperoleh dari air susu hewan. Air susu merupakan bahan makanan protein hewani
dengan kandungan lemak, vitamin, mineral, laktosa serta enzim-enzim dan
beberapa jenis mikroba yang bermanfaat bagi kesehatan sebagai probiotik
(Usmiati, Sri dkk. 2009). Air susu terbanyak diproduksi oleh Sapi FH, hal ini disebabkan karena Sapi
FH mampu beradaptasi dengan ber bagai iklim iklim mulai dari subtropis sampai
tropis.
Tabel 1. Komposisi Nilai Gizi Susu Sapi per 100 Gram
No
|
Zat gizi
|
Nilai (per 100 gr) satuan
|
1
|
Kalori
|
61 Kkal
|
2
|
Protein
|
3,20 g
|
3
|
Lemak
|
3,50 g
|
4
|
Karbohidrat
|
4,30 g
|
5
|
Kalium
|
1.200 mg
|
6
|
Fosfor
|
694 mg
|
7
|
Besi
|
1,70 mg
|
8
|
Retinol
|
39 mcg
|
9
|
Vitamin B1
|
0,03 mg
|
10
|
Vitamin C
|
1 mg
|
Sumber: Daftar
Komposisi Bahan Makanan (Persagi 2005)
. Kebutuhan
protein hewani masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat seiring
dengan bertambahnya jumlah penduduk, perbaikan ekonomi dan tingkat kesadaran
kebutuhan gizi masyarakat yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada tahun 2011 Konsumsi susu
masyarakat Indonesia baru mencapai 16,4 kg atau 15,97 liter per kapita (Matondang,
2012). Sedangkan Industri Pengolahan Susu (IPS) memprediksi bahwa konsumsi susu
masyarakat pada tahun 2020 adalah sebesar 6 milyar liter setara susu segar atau
16,5 juta liter per hari. Hal ini menunjukkan bahwa susu dibutuhkan minimal
1.325.000 ekor sapi laktasi (dengan rataan produksi 4.600 liter per laktasi)
atau populasi sapi perah sebesar 2,6 juta ekor.
Saat ini persebaran air susu masih
sangat rendah, ini dilihat dari
permintaan potensi susu oleh 250 juta penduduk namun baru mencapai 30 kebutuhan
efektif (Yusdja, 2005). Produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 30% kebutuhan
nasional dan sisanya diimpor sebanyak 132,874 ribu ton setara susu segar, dimana
80% diserap oleh IPS dan sisanya 20% diserap oleh industri susu non IPS,
kebutuhan pedet dan konsumen langsung (Matondang dkk.2012).
Di
bidang peternakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
jumlah produksi susu, seperti lingkungan, kondisi
fisiologis dari ternak, umur ternak, pemberian pakan, serta manajemen pemerahan.Manajemen
pemerahan di sebuah peternakan dapat meliputi beberapa hal diantaranya waktu
pemerahan, selang pemerahan, frekuensi pemerahan dan tatalaksanapemerahan.
Secara umum, jadwal pemerahan di peternakan sapi perah di Indonesia adalah pagi
hari dan sore hari.
Tata laksana pemerahan terdapat dua metode yaitu
dengan menggunakan
mesin perah dan tenaga manusia. Pemerahan dengan mesin
perah biasa digunakan di peternakan dengan skala produksi yang besar, sedangkan
tenaga manusia atau
menggunakan tangan pada umumnya diterapkan pada skala
peternakan rakyat.
Peternakan rakyat di Indonesia jumlahnya lebih banyak
dibandingkan peternakan
skala industri. Kendala
tersebut terjadi karena peternak belum mampu mengembangkan usahanya, karena
rendahnya pendapatan. Pendapatan mereka hanya cukup dialokasikan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga, sehingga tidak mampu untuk mengembangkan usahanya.
(Rusdiana, 2009). Oleh karena
itu, perlu dilakukan evaluasi dalam tata laksana pemerahannya, agar dapat
meningkatkan produktivitas susu.
Dalam proses produksi susu banyaknya
koperasi-koperasi pengumpul air susu yang menambahkan campuran air pada air
susu. Pengumpul susu ini bertujuan agar produksi susu lebih banyak dan membawa keuntungan yang
besar. Kegiatan seperti itu menyebabkan kandungan penting pada susu menjadi
berkurang. Tujuan masyarakat mengonsumsi susu adalah karena ingin memenuhi
kebutuhan nutrisi. Ketika terjadi pencampuran air susu dengan air maka otomatis
telah terjadi kecurangan pada pihak penjual yang dapat merugikan pembeli air
susu. Pemberdayaan koperasi susu telah dicoba dalam
menangani minimnya pasokan susu. Namun akibat penerapannnya belum optimal,
akhirnya Indonesia masih terus impor susu dari negara lain.
Selama ini telah dilakukan banyak usaha untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu di Indonesia seperti
penyuluhan terhadap peternak sapi perah. Pemberian bekal kepada peternak
mengenai cara pemerahan susu, pemberian perlakuan istimewa pada sapi sebelum
pemerahan, pemberian pakan yang berkualitas dan pengaturan suhu serta
kelembaban. Selain itu telah banyak diproduksi obat, hormon ataupun vitamin
untuk merangsang air susu. Namun obat-obat tersebut masih memiliki beberapa
kekurangan.
Untuk meningkatkan produksi air susu ternak kami
menawarkan produk berbentuk salep. Dengan tampilan yang praktis, dan bahan herbal alami. Selain
merangsang jumlah air susu yang keluar, poduk ini berkhasit untuk meningkatkan
kualitas gizi air susu.
Rumusan Masalah
a)
Bagaimana kondisi produksi susu di indonesia?
b)
Siapa pihak yang terlibat dalam produk salep PAS?
c)
Bagaimana pembuatan salep PAS sebagai perangsang susu?
d)
Bagaimana salep PAS meningkatkan produksi susu?
Tujuan
a)
Mengetahui kondisi produksi susu di indonesia?
b)
Mengetahui pihak yang terlibat dalam produk salep PAS?
c)
Mengetahui pembuatan salep pas sebagai perangsang susu?
d)
Mengetahui salep pas meningkatkan produksi susu?
Manfaat
a)
Manfaat untuk penulis
·
Mengetahui cara peningkatan air susu
·
Mengerti pembuatan salep perangsang air
susu
b)
Manfaat untuk fakultas peternakan
·
Menciptakan inovasi baru pada perangsang
air susu
·
Membuat produk
inovasi baru yang mudah dikembangkan masyarakat
c)
Manfaat untuk peternak
·
Merangsang nafsu makan pada ternak
·
Mununjang produksi air susu ternak
·
Meningkatkan kwalitas air susu yang
dihasilkan
GAGASAN
Kondisi
Kekinian Produksi Air Susu Sapi
Indonesia merupakan negara Asia Tenggara
yang paling tinggi populasinya. Memiliki populasi sekitar 220 juta orang dan
Populasi tumbuh sekitar 1,5% per tahun dan diperkirakan meningkat menjadi 240
juta pada tahun 2010. Indonesia memiliki jumlah penduduk berumur di bawah 19
tahun yang cukup besar (Matondang, 2012). Sedangkan pada tahun 2013 Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal mengungkapkan jumlah penduduk Indonesia
akan diperkirakn bertambah menjadi 250 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk
1,49 persen per tahun.
Saat ini konsumsi susu sapi dalam negeri mencapai
sekitar 4 juta liter per hari namun kemampuan produksi hanya sekitar 1,25 juta
liter per hari atau sekitar 30 persen dari kebutuhan susu nasional. Guna
mengatasi permasalahan ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi susu,
maka sekitar 70 persen dari total kebutuhan dipenuhi melalui impor susu.
Peningkatan jumlah susu impor tersebut sebesar 18,8 persen per tahun yang
berasal dari Selandia Baru, Australia, dan Philipina.
Menurut data Kementerian Perindustrian, total
kebutuhan bahan baku susu tercatat 3,2 juta ton per tahun. Sedangkan pasokan
dari peternak hanya 690.000 ton yang dihasilkan oleh sekitar 597.135 ekor sapi
perah. Artinya, hanya 21% bahan baku industri susu olahan yang bisa dipenuhi
oleh peternak, sedangkan 79% masih harus diimpor. “Kalau begini kondisinya,
jelas kita akan semakin tergantung pada susu impor,” ujar Teguh.
Dengan jumlah perkembangan penduduk yang tinggi,
Indonesia memiliki prospek pengembangan industri yang relative besar. Dilihat
dari sisi produksi, Indonesia memiliki padang-padang
penggembala dan produksi hijauan yang berlimpah dan sebagian besar tidak
digunakan sepanjang tahun. Sedangkan dari
sisi kemampuan financial, di indonesia hanya mampu menyediakan informasi yang
relativ tinggi, untuk swasta maupun usaha rakyat tersedia. Salah satu kelemahan
kita adalah belum menguasai kemampuan manajemen dan teknologi sapi perah (Matondang,
2012).
Selama
ini di Indonesia yang telah diterapkan untuk meningkatkan produksi susu sapi
perah adalah dengan peningkatan skala usaha, memberikan pakan yang cukup dan
berkualitas, meningkatkan frekuensi pemberian pakan bernutrisi tinggi dan aspek tata laksana pemerahan
yang efektif (Rusdiana, dkk, 2009). :
1.
Peningkatan skala usaha
Pada skala kecil usaha peternak
sapi perah di Indonesia
hanya
memiliki 3-5 ekor sapi dengan hasil air susu di bawah 10 liter atau tepatnya hanya 9
liter/kapita/ tahun. Produksi air susu ini kurang mengimbangi konstribusi
masyarakat dalam upaya peningkatan produksi susu nasional. Belum lagi jika pada
peternakan tersebut sedang dalam tidak memproduksi susu, Ini akan meningkatkan
tingkat impor air susu sapi di indonesia.
- Memberikan pakan yang cukup dan berkualitas
Etgen et
al., (1987) menyatakan bahwa rasio untuk hijauan dalam bahan kering ransum
harus berkisar 40-70%, jika rasio hijauan kurang dari 40%, maka kadar lemak
susu akan turun atau sebaliknya jika rasionya melebihi 70%, produksi susu yang
tinggi akan tercapai. Siregar (1996) juga sependapat dengan pernyataan diatas,
untuk mencapai produksi yang tinggi dengan tetap memperlakukan kadar lemak susu
dalam batas-batas yang memenuhi persyaratan kualitas, rasio hijauan konsentrat
adalah 60 : 40. Sapi perah yang sedang berproduksi dapat hanya diberikan
hijauan, namun produksi susu akan sangat rendah, sehingga tidak akan ekonomis.
Demikian pula halnya apabila yang diberikan seluruhnya adalah pakan konsentrat
akan tercapai produksi susu yang maksimal, namun kualitas susu yang dihasilkan
akan menurun, dan hal ini juga tidak akan ekonomis (Siregar, 2003).
Tabel 2. Kandungan BK, PK, dan TDN dalam Pakan Jenis Pakan
No
|
Komposisi
|
BK
|
PK
|
TDN
|
1
|
Rumput Lapang
|
24
|
4 8.2
|
56.2
|
2
|
Singkong
|
32.3
|
3.3
|
81.8
|
3
|
Kulit Kacang Kedele
|
91
|
12. 3
|
48
|
4
|
Ampas Tempe
|
20.5
|
13
|
-
|
5
|
Konsentrat
|
85.3
|
11
|
76
|
Sumber : Nur Hafizah Tristy, 2009
3.
Meningkatkan frekuensi pemberian pakan
Sapi perah induk
membutuhkan asupan-asupan makanan dengan zat gizi yang kandungan protein kasar di atas 10 persen dari bahan
kering, energi di atas 50 persen, kalsium di atas satu persen, dan kandungan
vitamin A yang tinggi. Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya
golongan kacang-kacangan atau legume (daun kacang tanah, lamtoro, kaliandra,
alfalfa, gliricidae dan daun kacang-kacangan). Ketika
kualitas pakan rendah maka jumlah pakan yang diberikan harus lebih banyak.
4.
Meningkatkan frekuensi pemerahan
Pada umumnya pemerahan
dilakukan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun, jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25
liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari (Tristy, Nur Hafizah, 2009). Pemerahan dilakukan dengan memperhatikan keadaan ambing
sapi. Setiap sapi perah memiliki ambing
yang didalamnya terdapat alveoli-alveoli. Alveoli ini akan berfungsi maksimal
ketika ambing dalam keadaan kosong karena diperah. Oleh karena itu, manajemen waktu
pemerahan yang baik disini sangat dibutuhkan agar produksi susu sapi perah
optimal.
5.
Pemberian hormon dan obat perangsang air
susu
Hal ini sering dilakukan ketika kondisi geografis
peternakan sedang dalam masa kekeringan sehingga sulit didapatkan bahan pakan
atau mahalnya bahan pakan. Peternak memilih untuk menambahkan suplemen agar
produksi susu meningkat atau
tetap stabil.
Kondisi
kehidupan yang semakin mengarah pada kepraktisan atau efisiensi kerja mendukung
gagasan kami untuk menciptakan obat atau salep perangsang air susu sapi. Hal
ini karena salep akan lebih mudah dan cepat dalam penggunaannya dibandingkan
dengan obat lain. Obat-obat yang sebelumnya terdapat beberapa kekurangan
seperti terbuangnya sisa-sisa pakan yang mengandung serbuk obat dan tidak
efisiensinya penggunaan jarum suntik dapat diperbaiki oleh gagasan kami.
Selama
ini telah banyak produsen-produsen yang memproduksi obat-obat perangsang air
susu. Mulai dari bentuk cair yang disuntikkan ke ternak ataupun dalam bentuk
serbuk yang diberikan pada pakan ternak . Ada juga dengan cara penambahan
hormon perangsang yang biasa dipakai peternak. Namun obat-obat tersebut masih
memiliki beberapa kekurangan, seperti jika pada obat suntikan subkutan akan
menghabiskan alat suntik yang banyak sehingga bisa dikatakan tidak efisien.
Sedangkan pemberian obat serbuk akan
tidak efektif karena serbuk-serbuk tidak seratus persen tercampur dengan pakan,
ada yang tertinggal di wadah pakan. Belum lagi ketika ternak tidak memakan
semua pakan yang diberikan.
Pemberian
hormon pada ternak menyebabkan adanya kecenderungan untuk menghasilkan residu
dan residu ini yang dikhawatirkan berdampak pada kesehatan manusia karena
pemberian hormon steroid bersifat karsinogenik dan efek pemberian hormon ini
menimbulkan stress yang berkepanjangan sehingga sapi lebih mudah terkena
penyakit dan umurnya juga lebih pendek.
Bahan
pembuat salep terdiri dari bahan alami dan bahan kimia. Namun efek negatif zat
kimia yang terkandung di dalamnya dapat dinetralisir oleh bahan-bahan alami.
Oleh karena itu tidak dikhawatirkan akan adanya zat-zat karsinogenik yang dapat
membahayakan sapi perah maupun pengkonsumsi susu. Kekurangan-kekurangan diatas
diharapkan dapat diperbaiki oleh gagasan kami.
Dalam tahap pengimplementasian
gagasan kami, kami mempertimbangkan pihak-pihak yang dapat membantu berjalannya rencana, seperti
:
1. Pemerintah
wadah yang tepat untuk manangani hal ini. Dengan
bantuan pemerintah dengan cara mensosialisasikan produk ini kepada peternak sapi perah.
2. Peternak
Adanya produk ini diharapkan bisa membantu permasalahan
yang dihadapi peternak selama ini. Tujuannya yaitu meningkatkan produksi susu.
Peternak perlu menambahkan hormon perangsang air susu dengan metode pemberian
yang berbeda. Mengenai
solusi tersebut, kami menciptakan produk berupa salep untuk menghantarkan
hormone-hormon perangsang air susu pada ternak. Produk kami ini berupa salep
dengan bahan dasar dari tumbuhan. Selain meningkatkan hasil produksi air susu,
selep ini memiliki peran penting dalam meningkatkan gizi
protein herbal dari hasil air susu.
Ditinjau dari sisi yang lain, salep produk kami ini juga memiliki kemasan praktis, mudah dalam
penggunaannya sehingga konsumen tidak perlu khawatir mengenai metode
pemanfaatannya.
Gagasan Baru Dalam Merangsang
Produksi Air Susu Sapi
Dengan adanya kondisi yang menunjukkan belum maksimalnya produksi pada air susu sapi, maka
diperlukan adanya solusi yang dapat menanggulangi masalah tersebut. Solusi yang
kami dapatkan yaitu salep perangsang air susu sapi.
Salep merupakan salah satu jenis sediaan semi solid atau setengah padat.
yang menentukan dalam pembentukan salep yakni basisnya. basis salep merupakan
suatu zat yang umumnya tidak mempunyai efek terapetik dan digunakan sebagai
pelarut atau pembawa bahan aktif, namun basis salep ikut mengambil bagian yang
sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan terapi salep. Bahkan seringkali
basis memegang peranan yang paling dominan.
Salep yang kami buat
ini mengandung nutrisi perangsang air susu dengan cara meningkatkan kadar
prolaktin. Kadar prolaktin ini terdapat pada kelenjar susu yang berfungsi Merangsang pembentukan dan
pengeluaran hormon steroid air susu setelah melahirkan. Kadar prolakaktin terdapat pada setiap makanan yang mengandung protein. Di
dalam protein terdapat asam amino tirosin dan triptofan, yang memiliki
kemampuan memicu pengeluaran prolaktin. Selain pada makanan, minuman seperti
bir juga dapat memicu pengeluaran prolaktin.
Dalam peningkatan
kandungan triptofan, makanan harus memiliki kandungan serotin yang tinggi.
Adapun makan yang memiliki kandungan serotin yang tinggi dan kaya kandungan
triptofan adalah susu, kedelai, sayuran dan hasil ternak unggas
Berikut ini adalah beberapa makanan yang mengandung
kadar triptofan yang tinggi:
a) Susu
mempermudah untuk mendapatkan tidur nyenyak. Susu kedelai juda merupakan sumber
triptofan yang cukup baik.
b) Daging.
Daging merah yang berlemak memeliki kandungan triptofan yang tinggi. Seperti:
daging sapi, digang ayam dan daging kalkun.
c) Keju. Keju
dengan triptofan tinggi seperti: keju cottage, chadder
d) Sayuran.
Sayuran merupakan makanan murah dengan kandungan triptofan yang tinggi.
Dalam
penerapannya, salep ini di gunakan setelah selesai masa
menyusui anak ternak.
Sebelum pengolesan salep pada ambing ternak sapi, dilakukan tahap pencucian
ambing sapi. Selain untuk membersihkan ambing sapi, tahapan pencucian ini
befungsi untuk hormon oksitosin sebelum tahapan
pemerahan ternak
sapi. Sentuhan pada puting akan memberikan impuls ke saraf yang diteruskan ke
otak kemudian ke kelenjar pituitary posterior yang menyebabkan terjadinya
sekresi oksitosin. Oksitosin yang terdapat di dalam darah meningkat
seiring dengan perangsangan pada ambing. Oksitosin
menyebabkan serabut myoepithel yang merupakan reseptor yang menyelubungi
alveoli berkontraksi dan menyampaikan pesan ke alveoli untuk mengeluarkan susu
(Matondang, 2012).
Tahapan
pencucian, sebagai berikut:
1. Membersihkan
kandang dari segala kotoran
2. Mencuci
daerah lipatan paha sapi yang akan diperah
3. Memberi
konsentrat kepada sapi yang akan diperah
4. Membersihkan alat-alat pemerahan susu (ember dan alat
takar susu) dan cane Susu
- Membersihkan tangan pemerah
- Mencuci ambing dengan air bersih, kemudian melapnya dengan lap yang bersih.
- Melakukan uji mastitis setiap sebelum dilakukan pemerahan.
(Tristy, Nur
Hafizah, 2009).
Setelah
tahap pembersihan ambing susu selesai,
salep dioleskan pada ternak diwaktu malam hari. salep ini akan meresap dan
bekerja malam hari setelah tahap pengolesan. Pada keesokan harinya sebelum
pemerasan air susu, ambing harus dibersihkan dengan cara pembersihan yang sama
pada tahap awal. Kegiatan ini harus
dilakukan secara berangsur-angsur.
Mulai saat
pemerasan minggu
pertama, agar poduksi air susu meninggkat secara stabil..
Tahapan
pemerahan dengan cara manual atau dengan tangan adalah sebagai berikut:
1.
Membersihkan kandang dari segala kotoran.
2.
Mencuci daerah lipatan paha sapi yang akan diperah.
3.
Memberi konsentrat kepada sapi yang akan diperah,
sehingga ketika dilakukan pemerahan, sapi sedang makan dalam keadaan tenang.
4.
Membersihkan alat-alat pemerahan susu (ember dan alat
takar susu) dan cane susu.
5.
Membersihkan tangan pemerah
6.
Mencuci ambing dengan air bersih, kemudian melapnya
dengan lap yang bersih.
7.
Melakukan uji mastitis setiap sebelum dilakukan pemerahan
(Tristy, Nur
Hafizah, 2009).
Langkah Pembuatan Salep
- Alat
Alat-alat yang digunakan yaitu :
a)
seperangkat alat gelas
b)
rotary evaporator
c)
oven (Memmert)
d)
autoklav(Wiconsin co.LTD)
e)
Laminar Air Flow (1-800-44 FAAR Co)
f)
inkubator (Precision scientific)
g)
mort ir dan stamper
h)
penangas air
i)
stopwatc
j)
timbangan elektrik Ohaus Scout
BJ5006310302 portable
k)
viskotester VT-04 Rion Co.LTD
l)
rangkaian alat uji daya sebar dan alat uji daya lekat.
- Bahan
a)
Daun kemangi. Bahan yang digunakan untuk formula salep adalah PEG 4000 dan PEG
400 dengan kualitas farmasetis
b)
Daun bayam
c)
kedelai
d)
Eter
e)
aqua destilata kualitas farmasi
f)
FeCl3
g)
Na sulfat anhidrat pro analisis
Pada resep ini membuat sediaan yang berkhasiat sebagai krim. Krim adalah sediaan ½ padat berupa emulsi kental
yang mengandung tidak kurang dari 60 % air.
Dalam
pembuatan sediaan ini terdapat beberapa komposisi bahan, yaitu :
A. Asam stearat
Berfungsi sebagai zat tambahan yaitu sebagai emulgator
Berfungsi sebagai zat tambahan yaitu sebagai emulgator
B. Mineral oil
C. Aqua
destillata
Berfungsi sebagai zat pembasah
Berfungsi sebagai zat pembasah
D. Rosae
Berfungsi sebagai zat tambahan dan pengaroma
Berfungsi sebagai zat tambahan dan pengaroma
E. Propil
paraben
Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
F. Metil
paraben
Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
G. Daun kemangi sebagai zat tambahan
yang memiliki kandungan prolaktin perangsang air susu sapi
H. Daun bayam sebagai zat tambahan yang
memiliki kandungan prolaktin perangsang air susu sapi
I. Kedelai sebagai zat tambahan yang
memiliki kandungan prolaktin perangsang air susu sapi
Dalam pelaksanaan resep perangsang
air susu sapi ini alat-alat yang diperlukan yaitu:
1.
Mortir
2.
Stemper
3.
Serbet
4.
Sendok tanduk
5.
Sudip
6.
Kertas perkamen
7.
Timbangan beserta anak timbangan
8.
Kayu penjepit
9.
Pot plastik
10.
Cawan porselen
11.
Pipet tetes
12.
Biji gotri
13.
Etiket
Dalam pembuatan sediaan ini yang
pertama dilakukan adalah
1.
Disiapka alat dan bahan
2.
Dilakukan penimbangan bahan
3.
Dipanaskan mortir dan stemper dengan air panas
4.
Dibuat fase minyak dengan meleburkan asam stearat,
mineral oil, dan propil paraben di atas tangas air
5.
Dibuat fase air dengan melarutkan metil paraben
6.
Daun kemangi, daun bayam dan kedelai masukkan ke dalam air
panas pada erlenmeyer.
7.
Kemudian dicampurkan hasil fase air dan fase minyak ke
dalam mortir, digerus cepat hingga terbentuk cream.
8.
Setelah dingin diteteskan oleum rosae sebanyak 1
tetes, dan gerus hingga homogen.
9.
Oleum rosae dimasukkan terakhir agar tidak menguap
jika digerus terlalu lama.
10.
Sediaan dimasukkan ke dalam pot plastic yang sebelumnya
sudah ditimbang
11.
Setelah dimasukkan ke dalam pot ditimbang lagi untuk
mengetahui netto sediaan
12.
Diberi etiket biru yang dimaksudkan untuk pemakaian
luar.
13.
Simpanlah ditempat yang sejuk dan terlindung dari
cahaya matahari.
Kesimpulan
Produksi air susu sapi
Produksi air susu yang minim
menjadikan kami membuat inofasi sebagai solusi untuk meningkatkan produksi air
susu. Inofasi tersebut yaitu salep perangsang air susu. Salep ini terbuat dari
bahan alami, yaitu kemangi, bayam, dan kedelai. Selain untuk meningkatkan
produksi air susu, salep ini juga merangsang protein nabati dalam susu sapi.
Jadi bagi konsumem susu tidak perlu kawatir, karena susu yang dihasilkan ini
tidak banyak mengandung lemak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar